Example floating
Example floating
Example 728x250
Internasional

AS Gunakan Drone dan Robot untuk Sapu Ranjau di Selat Hormuz, Tekanan terhadap Iran Meningkat

9
×

AS Gunakan Drone dan Robot untuk Sapu Ranjau di Selat Hormuz, Tekanan terhadap Iran Meningkat

Sebarkan artikel ini

bapermennews.com – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan memanfaatkan teknologi drone laut dan robot bawah air untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan secara hati-hati sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran komersial sekaligus mengurangi pengaruh Iran di kawasan strategis tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Teheran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026), hanya beberapa waktu setelah sebelumnya sempat dibuka. Penutupan itu disertai aksi penembakan terhadap sedikitnya dua kapal, sebagai respons atas kebijakan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran juga memperingatkan adanya ranjau di jalur utama selat dan mengarahkan kapal untuk menggunakan rute alternatif yang lebih dekat ke pantainya.

Dilansir The Wall Street Journal, Minggu (19/4/2026), analis militer menyebut operasi pembersihan ranjau menjadi kunci agar kapal dapat kembali melintasi jalur tengah Selat Hormuz yang lebih efisien. Tanpa pembersihan, kapal dipaksa menggunakan jalur sempit dan padat yang dikendalikan Iran.

Teknologi drone laut memainkan peran penting dalam misi ini. Perangkat tanpa awak tersebut menggunakan sistem sonar untuk memindai dasar laut guna mendeteksi ranjau tanpa membahayakan personel militer. “Anda tidak perlu khawatir tentang korban jiwa, sehingga penggunaan drone di ladang ranjau menjadi lebih dapat diterima,” ujar Scott Savitz, insinyur senior di RAND Corporation.

Setelah ranjau terdeteksi, robot bawah air dikirim dalam tahap lanjutan untuk menetralisirnya, baik dengan bahan peledak maupun sistem peledakan jarak jauh. Kevin Donegan, mantan wakil laksamana Angkatan Laut AS, menjelaskan bahwa teknologi kendaraan bawah air tanpa awak memungkinkan pemindaian area dilakukan dalam hitungan hari, bukan minggu.

“Setelah satu jalur aman dibuka, lalu lintas kapal bisa mulai berjalan, dan secara bertahap diperluas,” ujarnya.

Seorang pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa operasi ini menggabungkan sistem berawak dan tanpa awak, namun menolak memberikan rincian teknis lebih lanjut. Misi penyapuan ranjau ini juga menjadi bagian dari persiapan pengamanan konvoi militer guna melindungi kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.

Angkatan Laut AS diketahui memiliki berbagai metode untuk mendeteksi dan menghancurkan ranjau laut, mulai dari helikopter, kapal tempur pesisir, hingga penggunaan drone canggih. Salah satunya adalah Common Uncrewed Surface Vessel (CUS) yang dilengkapi sonar AQS-20 untuk memindai dasar laut secara luas. Selain itu, terdapat drone bawah air seperti MK18 Mod 2 Kingfish dan Knifefish yang mampu beroperasi secara mandiri dengan pola pencarian tertentu.

Situasi di Selat Hormuz saat ini berdampak signifikan terhadap stabilitas pasokan energi global. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketika Iran mempertahankan kontrol atas lalu lintas di kawasan tersebut, pasar global pun mengalami tekanan.

Berdasarkan intelijen AS pada Maret lalu, Iran diduga telah menempatkan ranjau di wilayah selat, meskipun skalanya belum dapat dipastikan. Bryan Clark, mantan pejabat senior Angkatan Laut AS, memperkirakan jumlah ranjau yang disebar kemungkinan terbatas.

“Penyebarannya cenderung dilakukan secara rahasia menggunakan kapal kecil seperti kapal nelayan atau kargo ringan, kemungkinan hanya belasan hingga dua lusin ranjau,” jelasnya.

Dengan operasi penyapuan ranjau yang sedang berlangsung, ketegangan antara AS dan Iran diperkirakan masih akan berlanjut, sementara dunia menunggu kepastian terbukanya kembali jalur vital perdagangan global tersebut. (RM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *