PADANG (bapermennews.com) – Hampir setahun setelah banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada November 2025, sejumlah korban di Kota Padang masih menanti kepastian bantuan untuk memperbaiki lahan pertanian mereka.
Salah satunya Nuraini (66). Lahan pertanian miliknya terdampak banjir dan hingga kini belum dapat kembali dimanfaatkan secara optimal. Padahal, lahan tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi dirinya.
Nuraini mengatakan, sebelumnya ia mendapat informasi bahwa pemerintah akan memberikan bantuan untuk perbaikan lahan terdampak. Ia bahkan diminta membuka rekening bank sebagai bagian dari proses penyaluran bantuan.
“Padahal informasinya akan ada bantuan, saya disuruh bikin rekening bank,” kata Nuraini, Selasa (6/10/2026).
Untuk memastikan rekening tetap aktif, Nuraini mengaku sengaja menyisakan uang sebesar Rp100 ribu di dalam rekening tersebut.
“Bahkan saya sisakan pula saldo Rp100.000 supaya rekening tidak mati saat bantuan disalurkan,” ujarnya.
Namun, hingga hampir satu tahun berlalu, bantuan yang diharapkan belum juga jelas realisasinya.
Menurut Nuraini, sawah tersebut sebelumnya masih dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Kini kondisi lahan membuatnya tidak bisa lagi digarap seperti sebelumnya.
“Kalau untuk beras makan dulu sudah amanlah dari sawah tersebut, tapi sekarang sudah tidak bisa digarap,” katanya.
Dua Lahan Sawah Ermawati Juga Terdampak
Kondisi serupa dialami Ermawati (50). Ia mengaku dua lahan sawah miliknya ikut terdampak banjir.
Ermawati masih berharap pemerintah segera melakukan perbaikan sehingga lahan tersebut dapat kembali digunakan untuk bertani.
“Tapi beruntung saya masih punya sawah lain. Walau sebenarnya masih berharap, namun sayangnya tidak ada kejelasan,” tuturnya.
Bagi para petani, pemulihan lahan menjadi persoalan penting karena sawah merupakan sumber penghidupan sekaligus penopang kebutuhan pangan keluarga.
102 Hektare Sawah Sudah Direhabilitasi
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice, mengatakan pemerintah sebelumnya telah melakukan rehabilitasi terhadap sekitar 102 hektare sawah yang terdampak banjir.
Namun, persoalan kembali muncul. Sebagian lahan yang telah direhabilitasi disebut kembali tertimbun material lumpur dan sedimen.
“Data sementara menunjukkan, sekitar 50 hektare lahan dari total 102 hektare diduga kembali tertimbun sedimen,” ujar Yoice.
Kuranji menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pada Kelompok Tani Lapau Munggua, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 6,5 hektare. Sedangkan di Kelompok Tani Patamuan, luas lahan terdampak diperkirakan hampir mencapai 30 hektare.
Kerusakan lahan pertanian juga dilaporkan terjadi di wilayah Lubuk Kilangan dan Koto Tangah.
Satgas PRR Sebut Mayoritas Daerah Mulai Normal
Sebelumnya, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) menyampaikan bahwa mayoritas daerah terdampak banjir dan longsor di wilayah Sumatera pada 2025 telah kembali dalam kondisi normal.
Juru Bicara Satgas PRR, Amran, mengatakan masih terdapat sejumlah daerah yang membutuhkan perhatian khusus karena fasilitas maupun pelayanan publik di wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih.
“Ada beberapa daerah yang butuh atensi khusus, perhatian lebih, karena fasilitas atau layanan yang ada di daerah tersebut masih butuh perhatian. Kemudian ada juga beberapa daerah yang sudah normal,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (5/10/2026).
Menurutnya, kondisi wilayah terdampak dibagi menjadi tiga kategori, yakni daerah yang sudah normal, mendekati normal, dan daerah yang masih membutuhkan perhatian khusus.
Penilaian tersebut dilakukan berdasarkan 12 indikator.
Untuk Sumatera Barat, dari 16 kabupaten/kota yang dipantau, sebanyak 13 daerah disebut telah berada dalam kondisi normal.
Di Sumatera Utara, dari 19 daerah terdampak, sebagian besar telah kembali pulih, sementara satu kabupaten masuk kategori mendekati normal.
Sedangkan di Aceh, dari 18 kabupaten/kota terdampak, sebanyak 10 daerah dinyatakan telah normal.
Meski secara umum mayoritas wilayah disebut mulai pulih, kondisi yang dialami sejumlah petani di Kota Padang menunjukkan bahwa proses pemulihan di lapangan masih menyisakan persoalan.
Bagi korban seperti Nuraini dan Ermawati, kepastian bantuan dan pemulihan lahan menjadi hal yang sangat dinantikan agar sawah mereka kembali produktif dan dapat menjadi sumber penghidupan.















