Example floating
Example floating
BeritaPendidikan

Sempat Terhenti karena Tunggakan Seragam, Dua Anak Panti di Padang Akhirnya Kembali Sekolah

27
×

Sempat Terhenti karena Tunggakan Seragam, Dua Anak Panti di Padang Akhirnya Kembali Sekolah

Sebarkan artikel ini

PADANG (bapermennews.com) – Harapan dua penghuni LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Kota Padang, untuk melanjutkan pendidikan akhirnya kembali terbuka. Setelah sempat berhenti sekolah akibat persoalan tunggakan biaya seragam, DP (18) dan AM (17) kini kembali mengenyam pendidikan di SMA PGAI Padang.

Kedua siswa tersebut sebelumnya menjadi sorotan publik setelah dikabarkan tidak lagi bersekolah akibat tunggakan biaya seragam saat masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al Furqan. Kasus yang sempat viral di media sosial itu mengundang perhatian berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, donatur, hingga pemerintah daerah.

Ketua LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra, mengatakan saat ini kedua anak asuhnya telah aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar sebagai siswa kelas XI semester dua di SMA PGAI Padang.

“Alhamdulillah, keduanya sudah kembali bersekolah. Saat ini sudah memasuki pekan keempat mereka menjalani proses belajar di sekolah yang baru,” kata Renol saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Menurut Renol, pascakejadian tersebut kedua siswa sempat tidak mengikuti kegiatan belajar selama lebih dari satu pekan. Namun dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak terus mengalir sehingga proses pendidikan mereka dapat kembali berjalan.

“Selama mereka tidak sekolah, banyak bantuan datang dari para donatur. Bahkan anggota legislatif dan instansi pemerintah juga memberikan perhatian. Alhamdulillah semua pihak peduli terhadap pendidikan anak-anak ini,” ujarnya.

Kasus ini bermula ketika DP dan AM dilaporkan diminta pindah sekolah akibat tunggakan biaya seragam sebesar Rp300 ribu per siswa. Informasi tersebut mencuat setelah beredarnya pesan singkat yang berisi permintaan agar kedua siswa dipindahkan ke sekolah lain.

Menanggapi polemik tersebut, Pemerintah Kota Padang bergerak cepat untuk memastikan kedua siswa tetap mendapatkan hak pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mencegah terjadinya angka putus sekolah akibat kendala ekonomi.

“Kami sudah berbincang langsung dengan kedua siswa dan memastikan mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan. Pemerintah Kota Padang tidak ingin ada anak yang kehilangan hak sekolah,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak MAS Al Furqan menjelaskan bahwa persoalan bermula dari tagihan biaya seragam yang harus dibayarkan sekolah kepada vendor. Meski demikian, pihak sekolah membantah telah mengeluarkan kedua siswa secara resmi dan menyebut pesan yang dikirimkan kepada pihak panti hanya bentuk luapan emosi akibat tekanan finansial yang sedang dihadapi.

Namun dampak dari persoalan tersebut membuat DP dan AM merasa tidak nyaman untuk kembali ke sekolah lama. Keduanya akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di sekolah yang baru dengan dukungan penuh dari pengurus panti, para donatur, serta Pemerintah Kota Padang.

Kini, setelah melewati masa sulit yang sempat mengancam masa depan mereka, DP dan AM kembali duduk di bangku sekolah. Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan terhentinya pendidikan, terlebih ketika kepedulian dan gotong royong masyarakat hadir untuk membantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *