Example floating
Example floating
BeritaWisata

Rel Kereta Api Sumbar, Warisan Sejarah yang Kini Jadi Tulang Punggung Konektivitas dan Ekonomi

26
×

Rel Kereta Api Sumbar, Warisan Sejarah yang Kini Jadi Tulang Punggung Konektivitas dan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

PADANG (bapermennews.com) – Jalur kereta api di Sumatera Barat bukan hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga merupakan warisan sejarah yang memiliki peran besar dalam pembangunan daerah. Sejak era kolonial, jaringan rel ini menjadi penghubung tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto dengan Pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur), sekaligus membuka konektivitas antara wilayah pesisir dan pedalaman Sumatera Barat, mulai dari Pariaman, Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh hingga Sawahlunto.

Keberadaan jalur kereta tersebut turut mendorong lahirnya berbagai pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan permukiman, serta perkembangan budaya dan sosial masyarakat. Hingga kini, kereta api tetap menjadi moda transportasi andalan bagi masyarakat untuk menuju sekolah, tempat kerja, bandara, pusat perdagangan, hingga destinasi wisata.

Seiring kebijakan nasional dalam memperkuat konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra, posisi Sumatera Barat dinilai semakin strategis. Provinsi ini memiliki modal berupa jaringan rel yang telah terbangun, aset prasarana yang memadai, serta layanan kereta api yang terus dimanfaatkan masyarakat.

Perkembangan perkeretaapian di Sumatera Barat dimulai pada akhir abad ke-19 untuk mendukung distribusi batu bara dari Ombilin. Stasiun Padang dibangun pada 1889 sebagai simpul distribusi menuju Pelabuhan Emmahaven, kemudian disusul Stasiun Pulau Air yang dibangun pada 1891 dan diresmikan pada 1 Oktober 1892. Selanjutnya jaringan rel terus berkembang hingga menjangkau Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto, Pariaman, dan Naras.

Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp), yang terdiri atas 110,910 kmsp jalur aktif dan 201,322 kmsp jalur nonaktif. Operasional tersebut didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang, serta empat stasiun angkutan barang.

Layanan penumpang di Sumatera Barat saat ini dilayani oleh KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Sementara itu, layanan angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.

Kepercayaan masyarakat terhadap transportasi kereta api terus menunjukkan tren positif. Selama Semester I Tahun 2026, KAI Divre II Sumbar melayani 1.140.586 pelanggan, sedangkan volume angkutan barang mencapai 556.465 ton, terdiri dari 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.

Dalam kurun lima tahun terakhir, jumlah pelanggan juga mengalami pertumbuhan signifikan. Dari sekitar 1,09 juta pelanggan pada 2021, meningkat menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025, atau tumbuh sekitar 81 persen. KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbanyak, sementara KA Lembah Anai juga mencatat peningkatan pengguna setelah penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.

Potensi tersebut semakin diperkuat dengan berkembangnya sektor pariwisata Sumatera Barat. Berbagai destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi dinilai memiliki peluang lebih besar untuk terhubung melalui transportasi berbasis rel. Selain itu, sejumlah jalur nonaktif seperti Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, hingga Solok–Muaro Kalaban masih memiliki peluang untuk direaktivasi sebagai bagian dari pengembangan jaringan di masa depan.

Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumatera Barat menjadi modal penting dalam mendukung penguatan konektivitas Pulau Sumatra.

“Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” ujar Reza.

Menurutnya, tren peningkatan jumlah pelanggan dan angkutan barang menjadi indikator semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api.

“Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. KAI Divre II Sumatera Barat siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tutupnya.

Dengan sejarah panjang, meningkatnya kepercayaan masyarakat, serta besarnya peluang pengembangan jaringan, Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung terwujudnya sistem perkeretaapian Pulau Sumatra yang semakin terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *